RAPI Green: “Goes to 40 Years”

Dipublikasikan oleh Redaksi pada

: A.R. Ar-Rasyidi Boediman La Ede – JZ09AAG

Tanggal 10 November 1980 merupakan tanggal yang paling bersejarah bagi organisasi RAPI; momentum yang menggetarkan hati bagi segenap pengguna KRAP. Betapa tidak pada tanggal itu pula RAPI resmi diakui oleh pemerintah NKRI. Sekaligus ditetapkan sebagai hari lahirnya RAPI oleh para punggawa pendiri RAPI. Pada saat itu pula para pegiat Radio Citizen Band sangat berbangga hati kerana keberadaan mereka sebagai penyuka komunikasi radio lintas batas diakui eksistensinya;

39 tahun telah berlalu adalah bukanlah waktu yang singkat untuk mengenang hari yang bersejarah itu. Betapa tidak penetapan tanggal 10 November tersebut bertepatan pula dengan peringatan Hari Pahlawan yang ditetapkan pada tanggal 10 November 1958. Hari dimana segenap anak bangsa mengenang perjuangan arek-arek Surabaya melawan bangsa penjajah sampai titik darah terakhir pada 10 November 1945.­­

Penetapan tanggal 10 November sebagai tanggal lahirnya RAPI bukanlah hal yang kebetulan semata. Para pendiri RAPI tentulah telah memikirkan secara matang bahwasanya dibalik penetepan tanggal 10 November tersebut diharapkan spirit para pahlawan menyatu dalam segenap sanubari anggota RAPI agar bisa meneladani nilai-nilai kejuangan dan perjuangan para Pahlawan Bangsa dalam memeilihara dan menjaga kemerdekaan yang tak ternilai dengan apapun dan dalam bentuk apapun. Pun, Anggota RAPI sebagai anak bangsa diharapkan mewarisi perjuangan para pahlawan dan selalu berada pada garda terdepan serta menjadi pelopor dalam menjaga keutuhan bangsa dan NKRI.

39 Tahun RAPI

Perhelatan 39 Tahun RAPI di Waduk Widas, Saradan Madiun pada tanggal 9-10 November 2019 masih terasa geregetnya; tajuk dan isu-isu tentang perlu dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan menjadi semacam kredo untuk sebuah gawe besar RAPI Nasional. Tagline “Bersama RAPI Kita Selamatkan Bumi” bukanlah sekadar obat pelipur lara bagi sebuah keprihatinan bahwa Bumi kita tidak sedang baik-baik saja. Berbagai kerusakan lingkungan yang diakibatkan dari ketidakpedulian kita terhadap penting dan perlunya menjaga kebersihan lingkungan disekitar kita telah menjadi keprihatinan tersendiri yang cukup mendalam.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini diberbagai media pemberitaan seringkali kita dipertontonkan dengan hal-hal yang memilukan; bencana tanah longsor, banjir, air bah, letusan gunung berapi, gempa tektonik, tsunami serta badai; seakan tak pernah kering dari berbagai media pemberitaan (koran, radio, televisi dan internet termasuk di medsos). Korban nyawa dan harta jumlahnyapun semakin tak terhitung. Sementara, alampun terasa semakin tidak bersahabat dengan kita; akibat yang ditimbulkan dari ‘keganasannya’ menjadi ‘momok’ yang sangat menakutkan disegala sendi kehidupan manusia;

RAPI dengan taglinenya tersebut bukanlah bermaksud sekadar gagah-gagahan dan atau memamerkan kepongahannya terhadap alam. RAPI dalam ke-RAPI-annya secara spesifik telah sering tampil dibarisan terdepan dalam hal kegiatan kebencanaan. “Berbuat yang terbaik, tulus, ikhlas untuk kemanusiaan” adalah motto RAPI yang tidak bisa ditawar-tawar dan tak ternilai. Platform RAPI sebagai organisasi kemasyarakatan (nirlaba) berkomitmen kuat untuk senantiasa bahu membahu bersama-sama dengan instansi terkait (BNPB, Depsos, BASARNAS) dalam hal kegiatan kemanusiaan (kebencanaan).

Peran RAPI di sektor “bantuan komunikasi” sangatlah dirasakan manfaatnya oleh segenap lapisan masyarakat yang sedang tertimpa bencana atau pada sektor kegiatan sosial lainnya; dan dengan seringnya skuad RAPI mengambil peran-peran vital tersebut telah membangkitkan kesadaran semesta bahwa betapa perlu, penting dan gentingnya RAPI mengambil posisi (berperan serta) ikut menjaga lingkungan dan alam sekitar (gunung, kawasan hijau, pantai, pemukiman dlsbnya).’

RAPI, Kantong Plastik, Polusi dan Lingkungan Hidup

Kepedulian RAPI Nasional terhadap lingkungan dibuktikan di Waduk Widas, Saradan Kabupaten Madiun. Di Waduk tersebut RAPI menjadi pelopor dalam mengampanyekan persoalan lingkungan yang sedang mengemuka saat ini. Kampanye “Stop Penggunaan Plastik!” adalah salah satu bentuk kepedulian RAPI Nasional terhadap lingkungan. Diharapkan menjadi kesepakatan bersama bagi segenap anggota RAPI dan pihak pemerintah sebagai stake holder.

Dikekinian, diberbagai belahan bumi sedang mewabah dan telah menjadi semacam tradisi yang mendarah daging penggunaan kantong plastik khususnya disektor jual beli. Sebagaimana kita ketahui bahwa plastik termasuk dalam golongan sampah anorganik; jenis sampah yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui; sangat sulit untuk terurai bahkan beberapa diantaranya tidak dapat diuraikan sama sekali.

Beberapa negara di Eropa, Afrika dan Asia telah menjadi pelopor membatasi bahkan penghentian penggunaan kantong plastik. Indonesiapun berada dalam barisan pembatasan penggunaan kantong plastik. Berbagai kampanye tentang pembatasan penggunaan kantong plastik ini marak dilakukan, bahkan beberapa lembaga yang tergabung dalam gerakan peduli lingkungan berhimpun mendukung kegiatan ini agar berbagai lapisan masyarakat mengurangi (menghentikan) ketergantungan terhadap kantong plastik; bahwa, sampah yang berasal dari kantong plastik adalah polusi yang tidak saja membahayakan alam/lingkungan hidup tapi sangat membahayakan pula bagi keberlanjutan kehidupan umat manusia. Sayangnya kesadaran masyarakat untuk berperanserta mengurangi hingga menghentikan penggunaan kantong plastik masih sangatlah kurang. Diperlukan keseriusan dari pihak pemerintah dan berbagai pegiat lingkungan agar tak henti-hentinya menggalakkan kampanye tentang bahaya sampah plastik.

Kini, Indonesia sedang diperhadapkan dengan ulah para importir sampah plastik yang nota bene akan didaur ulang dan dijadikan pendukung berbagai kebutuhan industri, rumah tangga dan lain sebagainya. Sampah plastik yang diimpor tersebut rerata belum disortir dari negara pengekspornya (Amerika Serikat, Jerman dan beberapa negara di Eropa). Sungguh, tak bisa dibayangkan dampak yang ditimbulkannya jika sampah plastik yang belum tersortir tersebut bercampur dengan sampah dari bahan yang berbahaya (uranium, nuklir, toksin dan lain-lain). Bahwa proses daur ulang tidak akan cukup dan menyelesaikan masalah. Apapun, bagaimanapun produksi berbagai kebutuhan manusia yang berbahan dasar plastik harus dikurangi guna mengatasi “krisis polusi sampah plastik”.

Menyikapi hal ini, RAPI sebagai sebuah organisasi yang berbasis kegiatan sosial kemasyarakatan sangat perlu mengambil peran penting bersama-sama pemerintah dan berbagai organisasi yang peduli terhadap lingkungan untuk bahu membahu mengampanyekan tentang dampak dan bahayanya sampah plastik yang sebagian besar berasal dari kantong plastik. Sejatinya RAPI bisa mengambil peran sesuai dengan fungsi dan tugasnya yakni pada sektor komunikasi radio VHF dan HF; namun, jika dibutuhkan RAPI pun bisa mengambil peran dalam bentuk kampanye aksi sosial (pembersihan sungai, laut/pantai, jalan, dan lingkungan) disekitar pemukiman warga dari berbagai sebaran sampah plastik dan lain sebagainya.

Menuju 40 Tahun; “Gerakan RAPI Hijau”

Tahun 2020 adalah tahun dimana RAPI sedang menuju usia ke 40 tahun; usia yang tidak muda lagi. Usia dimana sebuah organisasi sebesar RAPI serasa terlahir kembali. Lahir dengan energi positif. Energi yang membumi. Energi yang menyatukan kesepakatan berbagai elemen anggota RAPI yang tersebar diberbagai pelosok nusantara tentang betapa perlu dan pentingnya menjaga bumi dimana tempat berpijak agar tetap hijau, bersih, asri, nyaman, menyenangkan dan menenangkan.

RAPI Nasional secara keorganisasian sedang menggagas sebuah perhelatan besar yang diyakini akan bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. Kegiatan perhelatan yang dimaksudkan tersebut “GONG-nya” sudah bisa digaungkan sejak sekarang dan diharapkan segenap anggota RAPI yang berada diberbagai nusantara melalui pengurus-pengurus daerah, wilayah dan lokal bisa menjadi juru kampanye yang baik dan benar dalam men-sosialisasi-kan program RAPI Nasional yang dimaksudkan.

Perjalanan menuju 40 tahun RAPI dalam kurun waktu 9 bulan ke depan akan kita songsong. Namun dalam menyongsong ulang tahun yang ke – 40 tersebut diharapkan sudah ada desain berbagai kegiatan yang bisa dilaksanakan terkait dengan isu-isu yang sedang mengemuka dan menjadi trend saat ini, yakni; pentingnya menjaga alam dan lingkungan; minimal kita menjaga kebersihan dan menghijaukan lingkungan disekitar kita.

Gerakan RAPI Hijau atau “Bersama RAPI Kita Hijaukan Bumi”, diharapkan bukan hanya sekadar jargon semata; tapi benar-benar bisa diaplikasikan ke dalam berbagai kehidupan segenap masyarakat RAPI khususnya dan masyarakat di NKRI umumnya, yakni dengan mengadakan kegiatan-kegiatan sosial yang berhubungan dengan lingkungan, antara lain; gerakan penanaman 10 juta pohon di lahan-lahan kritis (gunung, hutan, lembah dan daerah sepanjang aliran sungai), 10 juta bibit bakau di kawasan bekas hutan mangrove di garis-garis pantai kritis yang tersebar diberbagai garis pantai NKRI, penanaman 10 juta pohon pelindung di kawasan pemukiman; gerakan pembersihan sungai dan garis pantai diberbagai pelosok nusantara dari berbagai sampah plastik; dan lain sebagainya.

10 November 2020 yang akan datang diharapkan RAPI sudah benar-benar bisa menikmati hasil dari peran “Gerakan RAPI hijau” tersebut. Pada saat yang sama RAPI pun bisa mendeklarasikan dirinya senantiasa berada pada garda terdepan sebagai pelopor gerakan hijau semesta; sekaligus menyikapi dan menjawab berbagai persoalan tentang rusaknya lingkungan dan dampaknya bagi umat manusia yang secara de facto semakin mengkhawatirkan.

RAPI dengan jumlah anggotanya kurang lebih 50.000 orang untuk secara serentak melaksanakan kegiatan Gerakan RAPI Hijau dengan motto “Bersama RAPI Kita Hijaukan Bumi” bukanlah hal yang absurd atau mission impossible. Tak ada yang tak bisa, tak ada yang tak mungkin. Anggota RAPI dengan berbagai latar belakang sosial, kultur dan agama ; kapanpun dan dimanapun berada sangat bisa menjadi pahlawan bagi bangsa dan negara dalam bentuk lain. Jika pada 10 November 1945 para pejuang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan; maka, anggota RAPI dengan semangat 10 November dan semangat persatuan berjuang merebut hati segenap anak bangsa dengan tulus, ikhlas dan tanpa pamrih bergerak bersama seirama menghijaukan bumi tempatnya berpijak sekaligus mencatatkan dalam hatinya bahwa dirinya telah menjadi pahlawan lingkungan, pahlawan bagi bangsa dan negara, pahlawan bagi anak cucu untuk sebuah cita-cita yang luhur. Sebagaimana kata Bung Hatta, Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan untuk dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita”

: “RAPI, Jaya! Jaya! Jaya!”

Triple Zulu-Cipinang, 11 Februari 2020

Salam,

Kategori: Headline

Redaksi

Admin rapi.or.id